Network Engineer Outsourcing: Kapan Perusahaan Perlu Menambah Tenaga Ahli Jaringan?
Jaringan merupakan salah satu komponen penting dalam operasional IT perusahaan. Ketika jumlah pengguna, perangkat, lokasi, dan sistem yang terhubung semakin banyak, pengelolaan jaringan juga menjadi semakin kompleks.
Masalah jaringan yang tidak segera ditangani dapat berdampak langsung pada aktivitas karyawan dan operasional bisnis. Di sisi lain, perusahaan tidak selalu membutuhkan tim Network Engineer dalam jumlah besar sepanjang waktu.
Network Engineer outsourcing dapat menjadi pilihan ketika perusahaan membutuhkan tambahan tenaga ahli jaringan untuk menangani kebutuhan operasional, proyek, ekspansi, atau skill tertentu tanpa harus menambah seluruh kapasitas tim secara permanen.
Lalu, kapan perusahaan sebenarnya perlu menambah Network Engineer?
Apa Itu Network Engineer Outsourcing?
Network Engineer outsourcing adalah penggunaan tenaga Network Engineer dari pihak eksternal untuk membantu perusahaan menangani kebutuhan jaringan sesuai scope pekerjaan yang telah ditentukan.
Network Engineer sendiri berfokus pada perencanaan, implementasi, pengelolaan, pemeliharaan, dan troubleshooting infrastruktur jaringan.
Dalam model outsourcing, perusahaan dapat memperoleh tenaga dengan kompetensi yang sesuai tanpa harus menangani seluruh proses pengadaan dan pengelolaan tenaga tersebut secara internal.
Scope pekerjaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, misalnya:
- Network monitoring
- Network troubleshooting
- Konfigurasi perangkat jaringan
- Maintenance jaringan
- Dukungan implementasi jaringan
- Dukungan proyek
- Field support
- Dan kebutuhan teknis jaringan lainnya
Kapan Perusahaan Membutuhkan Network Engineer Outsourcing?
Kebutuhan terhadap Network Engineer biasanya muncul ketika kompleksitas jaringan mulai melebihi kapasitas tim yang tersedia.
Berikut beberapa kondisi yang dapat menjadi indikator.
1. Infrastruktur Jaringan Semakin Kompleks
Semakin banyak perangkat, user, aplikasi, server, dan lokasi yang terhubung ke jaringan perusahaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengelolaan jaringan.
Jika kompleksitas tersebut sudah sulit ditangani oleh jumlah Network Engineer yang tersedia, perusahaan dapat mempertimbangkan tambahan tenaga.
2. Tim Internal Mengalami Beban Kerja Tinggi
Network Engineer internal mungkin harus menangani berbagai pekerjaan secara bersamaan.
Misalnya:
- Troubleshooting harian
- Monitoring
- Maintenance
- Perubahan konfigurasi
- Deployment
- Dokumentasi
- Hingga proyek jaringan
Ketika pekerjaan operasional semakin banyak, pekerjaan strategis atau proyek baru dapat tertunda.
Dalam kondisi tersebut, outsourcing Network Engineer dapat berfungsi sebagai tambahan kapasitas bagi tim internal.
3. Perusahaan Sedang Melakukan Ekspansi
Pembukaan kantor, cabang, warehouse, plant, atau lokasi operasional baru biasanya membutuhkan kesiapan jaringan.
Pekerjaan dapat mencakup:
- Assessment kebutuhan jaringan
- Deployment perangkat
- Konfigurasi
- Connectivity testing
- Troubleshooting
- Hingga support setelah implementasi
Jika kebutuhan tersebut bersifat project-based atau meningkat dalam periode tertentu, perusahaan dapat menggunakan tenaga eksternal untuk menambah kapasitas tanpa harus langsung memperbesar tim permanen.
4. Membutuhkan Keahlian Jaringan Tertentu
Tidak semua tim IT memiliki spesialisasi yang sama.
Perusahaan mungkin memiliki IT Support atau IT Engineer secara internal, tetapi membutuhkan Network Engineer dengan pengalaman tertentu untuk menangani pekerjaan yang lebih spesifik.
Dalam kondisi tersebut, menggunakan tenaga eksternal dapat menjadi alternatif untuk mengisi skill gap.
5. Memiliki Banyak Lokasi
Perusahaan dengan banyak cabang atau lokasi operasional dapat menghadapi tantangan dalam memberikan dukungan jaringan secara konsisten.
Ketika gangguan membutuhkan pemeriksaan langsung di lokasi, perusahaan dapat membutuhkan field support atau Network Engineer onsite.
Outsourcing dapat membantu perusahaan menyediakan tenaga berdasarkan kebutuhan lokasi dan coverage yang telah ditentukan.
6. Sedang Menjalankan Proyek Infrastruktur Jaringan
Kebutuhan Network Engineer juga dapat meningkat ketika perusahaan menjalankan proyek seperti:
- Pembangunan jaringan lokasi baru
- Upgrade infrastruktur
- Perubahan arsitektur jaringan
- Implementasi perangkat baru
- Migrasi
- Atau peningkatan kapasitas jaringan
Perusahaan tidak selalu membutuhkan tambahan tenaga tersebut dalam jangka panjang.
Karena itu, tenaga eksternal dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan selama periode proyek.
Apa Saja Tugas Network Engineer Outsourcing?
Tugas Network Engineer sangat bergantung pada scope pekerjaan yang disepakati.
Namun secara umum, beberapa aktivitas yang dapat menjadi bagian dari pekerjaan meliputi:
| Area |
Contoh Aktivitas |
| Monitoring | Memantau kondisi dan performa jaringan |
| Troubleshooting | Mengidentifikasi dan menangani gangguan jaringan |
| Configuration | Melakukan konfigurasi perangkat jaringan |
| Maintenance | Melakukan pemeliharaan infrastruktur jaringan |
| Implementation | Mendukung implementasi jaringan atau perangkat baru |
| Site Support | Memberikan dukungan teknis di lokasi |
| Documentation | Membantu dokumentasi konfigurasi dan infrastruktur |
| Project Support | Mendukung pekerjaan proyek jaringan |
Dengan demikian, jasa Network Engineer tidak hanya berkaitan dengan memperbaiki jaringan ketika terjadi gangguan. Tenaga Network Engineer juga dapat terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan infrastruktur jaringan.
Network Engineer vs IT Support: Apa Bedanya?
Kedua role ini sama-sama berhubungan dengan IT, tetapi fokus pekerjaannya berbeda.
|
Aspek |
IT Support |
Network Engineer |
| Fokus | Dukungan pengguna dan perangkat | Infrastruktur jaringan |
| User support | Tinggi | Tidak selalu menjadi fokus utama |
| Troubleshooting perangkat | Umum | Bergantung pada scope |
| Network troubleshooting | Dasar–menengah | Lebih spesifik dan mendalam |
| Network configuration | Terbatas | Menjadi bagian dari kompetensi utama |
| Network architecture | Bukan fokus utama | Dapat menjadi bagian pekerjaan |
| Cocok untuk | Operasional user support | Kebutuhan jaringan dan infrastruktur |
Dalam praktiknya, kedua role dapat bekerja bersama.
IT Support dapat menjadi titik awal ketika pengguna mengalami masalah, sementara Network Engineer menangani masalah yang membutuhkan keahlian jaringan lebih spesifik.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Network Engineer Outsourcing daripada Merekrut Internal?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua perusahaan.
Namun, outsourcing dapat lebih relevan ketika kebutuhan perusahaan memiliki karakteristik seperti:
Kebutuhan bersifat project-based
Jika perusahaan hanya membutuhkan tambahan tenaga selama proyek tertentu, outsourcing dapat memberikan fleksibilitas lebih tinggi.
Kebutuhan tenaga meningkat sementara
Misalnya ketika perusahaan melakukan ekspansi dan jumlah pekerjaan jaringan meningkat dalam periode tertentu.
Membutuhkan skill spesifik
Jika kompetensi yang dibutuhkan belum tersedia di internal, perusahaan dapat mencari tenaga dengan skill tersebut dari external talent pool.
Membutuhkan support di beberapa lokasi
Provider dapat membantu menyediakan tenaga sesuai kebutuhan lokasi dan coverage.
Tim internal membutuhkan tambahan kapasitas
Outsourcing dapat digunakan sebagai extension of the internal team, bukan semata-mata pengganti.
Apa Keuntungan Network Engineer Outsourcing?
1. Menambah kapasitas tim dengan lebih fleksibel
Perusahaan dapat menyesuaikan jumlah tenaga berdasarkan kebutuhan operasional dan proyek.
2. Mendapatkan akses ke skill tertentu
Perusahaan dapat mencari tenaga berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan tanpa harus membangun skill tersebut dari awal.
3. Mendukung ekspansi dan proyek
Tambahan Network Engineer dapat digunakan ketika perusahaan membuka lokasi baru atau menjalankan proyek infrastruktur.
4. Membantu mempercepat penanganan masalah jaringan
Dengan kapasitas tenaga yang memadai, pekerjaan troubleshooting dan maintenance dapat ditangani dengan pembagian tugas yang lebih jelas.
5. Membantu tim internal fokus pada pekerjaan strategis
Pekerjaan operasional tertentu dapat didukung tenaga eksternal sehingga tim internal dapat lebih fokus pada perencanaan dan pengembangan infrastruktur IT.
Bagaimana Menentukan Jumlah Network Engineer yang Dibutuhkan?
Jumlah tenaga tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan jumlah karyawan perusahaan.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain:
1. Jumlah lokasi
Berapa banyak kantor, cabang, site, warehouse, atau plant yang perlu mendapatkan support?
1. Jumlah perangkat
Berapa banyak perangkat jaringan yang harus dikelola?
2. Jumlah pengguna
Berapa banyak user yang bergantung pada infrastruktur jaringan?
3. Kompleksitas infrastruktur
Seberapa kompleks arsitektur dan teknologi jaringan yang digunakan?
4. Jam operasional
Apakah support hanya dibutuhkan pada jam kerja atau membutuhkan coverage tertentu?
5. Volume pekerjaan
Berapa banyak incident, request, maintenance, dan project yang harus ditangani?
6. Kebutuhan onsite
Apakah pekerjaan membutuhkan tenaga yang hadir secara langsung di lokasi?
Faktor-faktor tersebut lebih relevan untuk menentukan kebutuhan tenaga dibanding hanya menggunakan jumlah karyawan sebagai patokan.
Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Vendor Network Engineer Outsourcing?
Memilih vendor tidak cukup hanya dengan melihat apakah mereka dapat menyediakan Network Engineer.
Perusahaan sebaiknya mengevaluasi:
1. Kompetensi tenaga
Pastikan skill dan pengalaman kandidat sesuai dengan kebutuhan jaringan perusahaan.
2. Pengalaman proyek
Pertimbangkan pengalaman provider menangani lingkungan dan kebutuhan jaringan yang serupa.
3. Availability
Jika perusahaan membutuhkan onsite atau coverage tertentu, pastikan provider mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
4. SLA
Tentukan target layanan, response time, resolution time, dan indikator lain yang relevan.
5. Mekanisme replacement
Perusahaan perlu mengetahui bagaimana provider menangani kondisi ketika tenaga tidak dapat melanjutkan pekerjaan.
6. Monitoring kinerja
Pastikan terdapat mekanisme evaluasi untuk mengukur performa tenaga dan kualitas layanan secara berkala.
Network Engineer Outsourcing vs Network Engineer Internal
Kedua model dapat digunakan sesuai kebutuhan perusahaan.
|
Kondisi |
Internal |
Outsourcing |
| Kebutuhan jangka panjang |
✓ |
✓ |
| Kebutuhan project-based |
✓ |
|
| Skill spesifik sementara |
✓ |
|
| Ownership strategis |
✓ |
|
| Tambahan kapasitas |
✓ |
|
| Multi-location support |
✓ |
✓ |
| Pengelolaan langsung oleh perusahaan |
✓ |
|
| Fleksibilitas scaling |
Terbatas oleh proses internal |
Lebih fleksibel |
Karena itu, perusahaan tidak harus memilih satu model secara mutlak.
Hybrid model dapat menjadi pilihan ketika perusahaan memiliki Network Engineer internal tetapi tetap membutuhkan tenaga eksternal untuk project, lokasi tertentu, atau tambahan kapasitas.
Bagaimana KSPS Mendukung Kebutuhan Network Engineer Perusahaan?
KSPS menyediakan layanan IT Outsourcing dengan dukungan talent IT yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Untuk kebutuhan jaringan, perusahaan dapat memperoleh dukungan tenaga Network Engineer sesuai role, kompetensi, scope pekerjaan, dan model penempatan yang dibutuhkan.
Model tersebut dapat membantu perusahaan yang membutuhkan:
- Tambahan Network Engineer
- Tenaga untuk kebutuhan project
- Support di lokasi tertentu
- Tambahan kapasitas tim internal
- Atau kompetensi jaringan tertentu
Dengan pendekatan berbasis kebutuhan, perusahaan dapat menentukan terlebih dahulu scope pekerjaan dan kompetensi, kemudian menyesuaikan kebutuhan tenaga dengan model outsourcing yang paling sesuai.
Kesimpulan
Network Engineer outsourcing dapat menjadi solusi ketika perusahaan membutuhkan tambahan kapasitas atau kompetensi jaringan tanpa harus langsung memperbesar tim internal secara permanen.
Kebutuhan tersebut dapat muncul karena infrastruktur jaringan semakin kompleks, ekspansi lokasi, proyek baru, skill gap, peningkatan volume pekerjaan, atau kebutuhan support di berbagai lokasi.
Sebelum menggunakan jasa Network Engineer, perusahaan sebaiknya menentukan terlebih dahulu scope pekerjaan, kompetensi, lokasi, coverage, SLA, serta indikator kinerja yang dibutuhkan.
Dengan demikian, outsourcing Network Engineer bukan sekadar cara untuk menambah jumlah tenaga, tetapi dapat menjadi strategi untuk memastikan kebutuhan network operation dan infrastructure tetap dapat ditangani sesuai kebutuhan bisnis.
FAQ
Apa itu Network Engineer outsourcing?
Network Engineer outsourcing adalah penggunaan tenaga Network Engineer dari pihak eksternal untuk membantu perusahaan menangani kebutuhan jaringan sesuai scope pekerjaan yang disepakati.
Kapan perusahaan membutuhkan Network Engineer outsourcing?
Perusahaan dapat mempertimbangkannya ketika jaringan semakin kompleks, tim internal mengalami beban kerja tinggi, membutuhkan skill spesifik, melakukan ekspansi, menjalankan proyek jaringan, atau membutuhkan support di banyak lokasi.
Apa saja tugas Network Engineer outsourcing?
Tugasnya dapat mencakup network monitoring, troubleshooting, konfigurasi, maintenance, implementasi, site support, dokumentasi, dan project support sesuai scope layanan.
Apa perbedaan Network Engineer dan IT Support?
IT Support lebih berfokus pada dukungan pengguna dan perangkat, sedangkan Network Engineer memiliki fokus yang lebih spesifik pada infrastruktur, konfigurasi, troubleshooting, dan pengelolaan jaringan.
Apakah Network Engineer outsourcing dapat bekerja bersama tim IT internal?
Ya. Network Engineer outsourcing dapat berfungsi sebagai tambahan kapasitas atau spesialis bagi tim internal sehingga keduanya dapat bekerja bersama sesuai pembagian tanggung jawab.
Hubungi Kami